Peristiwa - Daerah
Sejuta Kisah Jemaah Haji Indonesia (1)
Ditinggal Suami setelah Wukuf, Dyah Chairunissa Salut Petugas Haji
11-09-2018 - 14:46 | Views: 531
Dyah Chairunissa Setyadi bersama Surip Nardi Utama saat akan berangkat ibadah haji (FOTO: kemenag.go.id)
Dyah Chairunissa Setyadi bersama Surip Nardi Utama saat akan berangkat ibadah haji (FOTO: kemenag.go.id)

SANGATTATIMES, JAKARTA – Banyak kisah yang mengiringi jemaah haji Indonesia dalam menjalankan rukun Islam kelima itu. Ada kisah sedih, gembira, sukacita, bahkan duka lara. Aneka kisah ini akan dirilis ulang TIMES Indonesia (timesindonesia.co.id) dari laman resmi Kemenag RI dan liputan jurnalis dalam tulisan bersambung: Sejuta Kisah Jemaah Haji Indonesia.

***

Air mata tak kuasa ditahan oleh Dyah Chairunissa Setyadi begitu pesawat Garuda yang ditumpanginya landing mulus di Bandara Internasional Soekarno Hatta 5 September 2018 lalu. Ibu 47 tahun yang tergabung dalam Debarkasi Jakarta Bekasi ini terus menyeka air matanya.

Jamaah haji lain di sebelahnya berusaha menenangkan. “Sabar bu, semua sudah takdir. Semua sudah kehendak Allah,’’ ucap seseorang di sebelahnya seraya menepuk-nepuk pundahnya.

Tak hanya di situ, sesaampai di Asrama Haji Bekasi, Jabar, Dyah tak kuasa menahan diri menghambur ke dalam pelukan Nunuk, sahabatnya.

Dyah-Chairunissa-Setyadi.jpg

Air matanya tumpah. Dyah pun erat mendekap sahabatnya yang kebetulan adalah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Jakarta Bekasi (JKS). Kepada Nunuk, tampak ia ingin melepaskan semua kisah pilunya selama di tanah suci.

Ya, bagi Dyah, perjalanan suci yang ia lakukan memang menyisakan pilu di hati. Di tanah suci, ia melepas kepergian kekasih hati, kembali ke pangkuan Ilahi. Surip Nardi Utama (56), suami yang menikahinya 26 tahun lalu, dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit pada tanggal 27 Agustus 2018 pukul 03.00 waktu Arab Saudi.

"InsyaAllah, saya sangat ikhlas atas kepergian bapak. Karena kondisi meninggalnya bagus dan di tanah suci. Saya juga sempat melihat jenazah dan makamnya,” kata Dyah dengan mata sembab.

Almarhum Surip diketahui mengidap penyakit diabetes sejak berusia 35 tahun. Meskipun demikian, menurut Dyah, kondisi kesehatan Surip tak pernah parah apalagi sampai harus dirawat di RS. Sampai beberapa hari jelang keberangkatan mereka ke tanah suci, ujian itu datang.

"Sebelum pemberangkatan ke tanah suci, suami saya kakinya kena knalpot dan terluka. Dari situlah awal mula gangren pada kakinya," cerita Dyah.

Gangren adalah istilah kesehatan untuk kondisi serius yang muncul ketika banyak jaringan tubuh mengalami nekrosis atau mati. Kondisi ini terjadi setelah seseorang mengalami luka, infeksi, atau masalah kesehatan kronis yang memengaruhi sirkulasi darah.

Keberangkatan Sempat Tertunda
Kondisi gangren yang ini yang dialami Surip membuat keberangkatan haji Dyah dan Surip sempat tertunda. "Kami sebetulnya jemaah kloter JKS-30. Namun, sesaat setelah sampai di Asrama Haji Bekasi, suami saya mengeluhkan lemas. Dan akhirnya, berdasarkan rujukan dari poliklinik, suami saya dirawat di RSUD Kota Bekasi selama delapan hari," cerita Dyah yang berprofesi sebagai guru pada SMKN 3 Depok ini.

Usai penundaan, keduanya mendapatkan izin untuk diberangkatkan bersama dengan kloter JKS-54, yang diberangkatkan tanggal 25 Juli 2018. "Alhamdulillah bisa berangkat, meskipun bapak menggunakan kursi roda saat itu," kenang Dyah.

Ternyata ujian ibadah haji mereka tak berhenti di situ. "Sesampainya di sana bapak kritis kemudian dirawat di RSAS King Abdul Aziz, Makkah," tutur Dyah dengan nada sendu.

Dyah tetap bersabar mendampingi sang suami untuk melewati ujian. Ia menguatkan diri untuk mendampingi Surip agar dapat melalui prosesi ibadah haji, meskipun dengan ujian penyakit yang menyertai.

Karena kondisi sakit yang dialami, Surip terpaksa mengikuti proses wukuf dengan cara safari wukuf. "Sementara untuk lempar jumroh, saya yang membadalkan," kata Dyah.

Selama proses tersebut, Dyah dan Surip tak sendiri. Ia merasakan bagaimana para petugas haji Indonesia membantu dirinya dan suami.

“Alhamdulillah, petugas kloter, petugas KKHI dan rumah sakit sangat sigap dan cepat dalam menangani bapak dan membantu saya menghadapi ini semuanya," ujar Dyah dengan pandangan menerawang mengenang hari-harinya di tanah suci.

Tak lama setelah selesai prosesi ibadah haji, Surip menghembuskan nafas terakhir. “Sungguh beruntung suami saya bisa meninggal di tanah suci, saya saja sampai iri,” ucap warga Sukmajaya, Depok ini kepada Inmas.

Meskipun pilu di hati masih terasa karena perginya sang kekasih hati, tapi Dyah mengaku ikhlas. Ibadah haji yang mereka tunaikan, menjadi kenangan terakhir kebersamaan Dyah dengan suami terkasih.

Semoga keduanya memperoleh haji mabrur. Dan amal ibadah Almarhum Surip diterima di sisi Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Simak Sejuta Kisah Jemaah Haji Indonesia selanjutnya.(*)

Editor
: Deasy Mayasari
Publisher
: Sholihin Nur
Sumber
: TIMES Indonesia