TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Berita

Nasib Penempel Kerang Tak Seindah Karyanya

10/05/2018 - 13:24 | Views: 3.16k
Abdul Ghofar saat bekerja menempel kerang ke dalam bingkai liontin perak. Kamis (10/5/2018).(FOTO: Khadafi/TIMES Indonesia)

TIMESSANGGATTA, BALI – Di dalam ruangan yang penuh debu kerang dan bisingnya deru mesin dinamo, Abdul Ghofar (22) serius memasang kerang ke dalam bingkai liotin yang berbahan perak.

Matanya jeli, mengukur sekat-sekat perak yang begitu kecil, tangannya sangat terampil mengupas dan memperkecil kerang hingga pas dan bisa masuk dalam liontin bingkai perak hingga terlihat elok. 

Tak jarang, tanganya pun tergores batu mesin dinamo. Kerajinan menempel kerang kedalam bingkai perak, tak semudah dibayangkan, butuh keseriusan dan ketrampilan khusus.

Abdul-Ghofar-saat-bekerja-A.jpg

"Saya sudah belasan tahun, bekerja menjadi pengerajin kerang untuk dipasangkan ke perak," ucapnya, saat ditemui digudang kerjanya, di Jalan Stra Duku, nomor 1, Desa Kelan, Kecamatan Kuta, Badung, Bali, Kamis (10/5/2018).

Pria asal Kepulaaan Ra'as, Kabupaten Madura Sumenep ini, menyampaikan kerang bukan hanya bingkai liontin saja, tetapi juga ada cincin, kalung, gelang dan anting. Selain itu, jenis kerang bermacam-macan tergantung orderan, mulai kerang coklat, putih dan hijau.

Untuk proses pembuatannya, bahan kerang harus dikupas dulu kulitnya yang kasar. Kemudian, di ampelas sebanyak dua kali, lalu di potong-potong sesuai dengan ukuran bingkai, selanjutnya dicocokan agar bisa masuk ke dalam bingkai.

"Saat sudah pas, baru ditempel dengan lem berbahan resin, dan terakhir baru di servis hingga mengkilat. Kendalanya kalau bingkainya terlalu kecil jadi harus benar-benar pas ketika mengupas kerangnya," imbuh Ghofar. 

Untuk bahan peraknya didapatkan dari bosnya yang memang pengerajin kerang di kawasan Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar Bali. Kemudian, Ghofar hanya bertugas menempelkan kerang kedalam bingkai perak tersebut.

"Dalam 3 hari saya bisa selesaikan 50 biji liontin, kalau seminggu bisa sampai 100 biji. Untuk harga pasang bisa mulai dari Rp 5 ribu sampai belasan ribu. Tergantung, sulit apa tidaknya," jelas Ghofar. 

Untuk kerangnya, Ghofar mendapatkan dari Jawa dan jenis kerangnya juga bermacam-macam tergantung pesamanan. Selain itu, harga kerangnya juga tergatung jenis dan kualitasnya. Kalau kerang putih dan coklat bisa mencapai Rp 80 ribu per kilogram, dan kerang hijau bisa mencapai Rp 150 ribu per kilogram.

Menurut Ghofar, biasanya kerajinan tersebut banyak dijual ke luar negeri, seperti Australia dan negara-negara lainya. Tetapi, menurutnya orderan-orderan menempel kerang bulan-bulan ini sangat sepi. Hingga tak jarang banyak pengerajin beralih profesi menjadi tukang ojek atau menjadi kariyawan Art Shop hingga guide.

"Dulu ada puluhan pengerajin di sini. Sekarang sudah tinggal 4 orang. Iya karena sepi orderan tidak ada yang pesan. Saya juga perna tidak kerja selama setengah bulan karena sepi," ucapnya.

Ghofar juga bercerita, menjadi pengerajin kerang tergantung dari orderan, jika orderan tidak ada hanya bisa menganggur atau mencari pekerjaan lainnya hanya untuk menyambung hidup. Tetapi, saat ramai hanya cukup buat makan sekeluarga dan bayar cicilan bulanan dan indekos.
"lya sekarang sudah berkurang karena orderan sepi. Iya hanya dicukup-cukupin buat makan dan bayar kos," tutupnya dengan senyum tawar. (*)

Jurnalis : Muhammad Khadafi
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher :
Copyright © 2018 TIMES Sanggatta
Top

search Search